Umrah Sambil Belajar Sirah

Umrah merupakan ibadah yang diimpikan setiap Muslim. Ia tak hanya sebuah perjalanan fisik dengan mengunjungi Makkah, Madinah dan daerah sekitarnya tapi juga perjalanan spiritual yang sarat ibadah.

Meski dambaan semua Muslim tapi berangkat umrah tak serta merta mudah diwujudkan begitu saja. Rumus berangkat umrah dan haji bukan punya uang lalu berangkat. Sebab, betapa banyak orang yang punya uang berlimpah tapi tak jua berangkat umrah atau haji.

Karena itu, rumus berangkat umrah bukan semata uang. Rumus berangkat umrah itu adalah: diundang Allah lalu diberikan jalan. Untuk itu, jalan bagi mereka yang berangkat umrah bermacam. Ada yang menabung belasan tahun lalu berangkat. Ada juga yang dapat warisan dari orang tua lalu pergi ke Tanah Suci. Ada juga yang dapat bonus lalu berumrah.

Bahkan, di masyarakat kita ada beberapa anekdot untuk menamai keberangkatan haji seseorang yang ‘tidak biasa’. Ada haji ‘abidin’, atas biaya dinas. Merekalah yang dibiayai oleh Pemerintah atau tempat dia bekerja untuk mengemban amanah tertentu. Sebagai wartawan, tenaga medis atau pembimbing. Ada juga ‘haji mansur’, haji halamannya digusur. Ia mendapatkan ganti atas kerugiannya tanahnya yang digusur lalu berangkat haji atau umrah. Ada juga ‘haji kosasih’, haji ongkos dikasih.

Haji dan umrah bisa disebut sebagai ibadah yang luar biasa. Ibadah haji dan umrah ini melibatkan hampir semua sisi dari dimensi ibadah. Bukan semata satu sisi.

Seperti kita ketahui, ada ibadah yang hanya melibatkan lisan seperti dzikir dan membaca al-Qur’an. Ada juga ibadah yang dominan fisik seperti shalat. Ibadah yang memerlukan uang seperti sedekah atau zakat. Ibadah yang hanya menahan diri dari makan dan minum dan nyaris tak perlu yang lain, misalnya puasa.

Nah, ibadah haji atau umrah melibatkan semua sisi itu. Umrah perlu biaya meski kadang dari orang lain. Umrah perlu fisik; thawaf dan sai. Umrah juga perlu waktu. Umrah juga perlu pengorbanan mental karena harus  meninggalkan keluarga untuk sementara waktu.

Jadi, mereka yang berangkat umrah berarti mengorbankan banyak hal. Karena itu, amat disayangkan jika ibadah umrah yang telah melibat banyak sisi kalau hanya dimaknai dengan sempit. Selain ibadah, umrah juga harus menjadi sarana kita menapaktilas tempat-tempat suci, berkah dan bersejarah.

Ada banyak tempat bersejarah di Tanah Suci. Bahkan, Makkah dan Madinah sendiri adalah tempat bersejarah. Di kedua kota inilah Nabi saw dan para shahabatnya menghabiskan banyak waktu. Makkah tempat kelahiran Rasulullah saw. Madinah adalah kota dimana beliau dimakamkan.

Menapaktilasi kedua kota suci dan sekitarnya itu berarti kita sedang belajar sejarah hidup manusia mulia, Muhammad saw. Kita seolah sedang merangkai sisi-sisi kehidupan beliau.

Kala kita berada di Puncak Jabal Nur, menyelinap di gua Hira’ berarti kita sedang mengenang Nabi saw mendapatkan wahyu pertama. Berada di Jabal Tsur, serasa kita sedang menemani Nabi saw dan Abu Bakar ash-Shiddiq bersembunyi di Gua Tsur untuk menyelamatkan diri dari kejaran kafir Quraisy yang ingin membunuhnya.

Bahkan, ketika kita meluncur dari hotel ke Gua Tsur, jika kita renungi, kita akan tahu betapa Nabi saw itu seorang ahli strategi yang jitu. Bukankah posisi Gua Tsur itu berada di arah selatan Makkah, sedangkan beliau ingin hijrah ke Madinah, arah utara dari Makkah. Ini maknanya Nabi saw sedang menjalankan strateginya, mengambil arah perjalanan yang berlawanan dengan arah yang mungkin akan dikejar pemburunya.

Demikian juga ketika kita berada di Madinah. Bermunajat di Raudhah, mengunjungi makam Rasul, berziarah ke komplek pemakaman Baqi’ dan mengitari Masjid Nabawi, ini akan semakin menambah kerinduan kita terhadap sang junjungan Muhammad saw.

Belum lagi jika kita pergi ke Masjid Quba’, sebuah bangunan yang pertama kali didirikan Nabi saw saat beliau hijrah ke Madinah. Shalat dua rekaat di dalamnya disetarakan dengan pahala umrah.

Ada juga masjid Qiblatain. Di tempat inilah Nabi saw dan para shahabatnya sempat melaksanakan shalat empat rekaat; dua rekaat menghadap ke arah Utara, Masjidil Aqsha dan dua rekaat lainnya ke arah Selatan, Masjidil Haram.

Bukit Uhud tentu menyisakan kenangan tak terlupa. Di sinilah pernah terjadi peristiwa yang sangat membekas dalam benak Rasulullah saw. Kekalahan yang menyebabkan 70 shahabat syahid sungguh teramat menyesakkan dada. Kita pun dianjurkan berkunjung ke tempat ini untuk berdoa buat syuhada Uhud yang hingga sekarang tetap terbaring hidup—sebab syuhada pada hakikatnya tetap hidup di sisi Rabbnya.

Buku mungil ini hanyalah goresan sederhana, oleh-oleh penulis saat membimbing jamaah menapaktilasi dua Kota Suci, Makkah dan Madinah. Selain pernak-pernik umrah, dalam buku ini juga dipaparkan sekilas sejarah dan penjelasan tentang tempat-tempat yang biasa dikunjungi para jamaah umrah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *