MENUJU SATU JAMAAH

Permasalahan umat, kini, terlalu besar kalau kita pikul sendiri. Musuh terlalu kuat untuk kita hadapi masing-masing. Tegaknya syariat di muka bumi ini tak mungkin mampu didirikan oleh sekelompok Muslim saja. Ia memerlukan jamaah.

 

Ironisnya, inilah yang hilang dari umat Islam kini. Tak ada lagi Jamaatul Muslimin yang menjadi pusat kekuatan umat Islam. Yang ada hanyalah jamaah-jamaah yang masing-masing berdiri sesuai dengan agendanya sendiri-sendiri. Lebih disayangkan lagi, jamaah-jamaah itu bukan hanya berdiri tanpa koordinasi satu sama lain, tapi berdiri dengan egonya masing-masing.

 

Di satu sisi ada jamaah yang mengklaim kelompoknyalah yang paling berjasa mengembalikan kesucian akidah umat. Kelompok lain mengklaim dialah yang paling getol menyerukan tegaknya syariah. Satu kelompok lagi mengaku paling banyak berbuat untuk umat dan mengabaikan peran jamaah lain. Pada saat yang sama ada juga yang antipati terhadap seluruh jamaah yang ada. Selanjutnya, ia menyepi diri seraya mengaku paling banyak mengamalkan sunnah.

 

Awal perpecahan umat Islam memang sudah sejak lama terjadi. Keruntuhan Turki Utsmani dan penghapusan sistem khilafah oleh Kemal  Attaturk, pada 1924, merupakan puncak kemerosotan peran politik Islam. Tragedi itu juga menjadi awal perpecahan umat Islam secara “resmi”. Padahal, hampir empat belas abad lamanya kaum Muslimin memainkan peranan politik yang sangat menentukan. Dua khilafah besar: Umayyah dan Abbasiyah menjadi kiblat dunia dalam berbagai bidang kala itu. Tak hanya menjadi sumber ilmu pengetahuan, tapi juga peradaban yang kini masih menyisakan bekas.

 

Selanjutnya, umat Islam menjadi “makanan” yang diperebutkan oleh bangsa-bangsa. Kaum Muslimin benar-benar seperti makanan yang diperebutkan sebagaimana digambarkan Rasulullah saw. Diperebutkan, dibagi-bagi, lalu dikoyak-koyak menjadi kepingan-kepingan kecil yang tak punya kekuatan sedikit pun. Penjajahan oleh bangsa-bangsa Barat atas negara-negara Islam melengkapi ketidakberdayaan itu.

 

Petaka runtuhnya sistem khilafah, bukannya tak disadari. Menjelang runtuhnya Kesultanan Utsmaniyah telah muncul beberapa pemikiran tentang kebangkitan Islam dari beragam sisi. Muhammad Iqbal, misalnya, membangkitkan etos tauhid di kalangan umat Islam. Muhammad bin Abdul Wahab (1703-1791) meneruskan gerakan Ibnu Taimiyah dalam memurnikan akidah umat dan memberantas kemusyrikan.

 

Pada dekade selanjutnya, muncul Jamaluddin Al-Afghani (1838-1897) dengan Pan Islamisme-nya yang berusaha  menyadarkan kaum Muslimin untuk bangkit. Idenya diteruskan oleh para “muridnya”, Muhammad Rasyid Ridha dan Muhammad Abduh.

 

Masih banyak para pemikir lainnnya yang punya peran besar bagi kebangkitan Islam. Selanjutnya, usaha jamaa’i (bersama) untuk mengembalikan peran politik Islam bukannya tak pernah dilakukan. Sejak runtuhnya sistem khilafah pada 1924, pencarian akan pijakan alternatif untuk menyatukan umat Islam dalam satu payung, terus dilakukan. Pada 1926 dilangsungkan Kongres Kekhalifahan Islam di Kairo. Pada tahun yang sama juga dilakukan Kongres Muslim Dunia di Makkah. Pada Desember 1931 berlangsung Konferensi Islam Al-Aqsha di Al-Quds Palestina. Beragam kongres dan pertemuan Muslim Internasional terus dilakukan.

 

Sayangnya pertemuan-pertemuan itu belum mampu meletakkan pijakan bagi umat Islam dalam satu payung. Pada 1968 Malaysia mendirikan Persemakmuran Muslim yang selanjutnya membuahkan konferensi menteri-menteri luar negeri Muslim. Pembakaran Masjid Al-Aqsha pada Agustus 1969, mempercepat diselenggarakannya Pertemuan Puncak Islam di Rabat untuk mendirikan Organisasi Konferensi Islam (OKI) dengan sekretariat tetap di Jedah.

 

Harapan tegaknya syariat Islam dalam satu payung kian besar. Kebangunan peradaban Islam yang diawali dengan pemikiran dan pertemuan, disambut dengan langkah nyata yang lebih tersusun rapi. Jika bicara tentang kebangkitan Islam, dalam kata pengantar buku ath-Thariq ila Jamaatil Muslimin (Menuju Jamaatul Muslimin, Robbani Press, 1987) karya Hussain bin Muhammad bin Ali, disebutkan dua tokoh pemuka dakwah yang tak bisa dilupakan sejarah: Abul A’la al-Maududi dengan Jamaat Islami-nya dan Hasan Al-Banna dengan Ikhwan al-Muslimin-nya.

 

Tentu, keduanya hanyalah contoh dari sekian banyak peletak dasar struktural gerakan Islam. Maududi dan Hasan Al-Banna memiliki gagasan sama, bahwa menegakkan khilafah Islamiyah harus dimulai dari bawah. Yaitu, mulai dari persoalan akidah yang kokoh, pemahaman syariah yang menyeluruh dan pembenahan akhlak yang benar. Pembenahan harus dimulai dari tingkat individu, keluarga, masyarakat, negeri, kemudian khilafah Islamiyah.

 

Meski kedua tokoh itu mempunyai dasar yang sama, tapi dalam penerapannya ada perbedaan. Maududi dengan Jamaat Islami-nya banyak menunjukkan figurisme sang tokoh dan lemah dalam hal kaderisasi. Maududi lebih banyak ceramah dan menulis buku daripada “mencetak” kader. Lingkup gerakannya pun hanya berkisar di India dan Pakistan.

 

Sedangkan Ikhwanul Muslimin tak terlalu menonjolkan figuritas meski Hasan Al-Banna adalah tokoh utamanya. Pergerakannya tetap melaju meski sang tokoh tiada. Hasan Al-Banna lebih banyak mencetak kader daripada menulis buku. Karenanya, gerakannya pun  mendunia. Usianya memang terlalu pendek—43 tahun—untuk sampai pada titik yang difigurkan.

 

Cahaya kebangkitan Islam menuju satu jamaah terus bersinar. Beragam kelompok lahir. Negara-negara berpenduduk Muslim, satu persatu berhasil melepaskan diri dari jeratan penjajah. Di kota-kota besar semarak kajian Islam. Tokoh-tokoh umat Islam pun mulai diterima di panggung politik. Keputusan-keputusan penting yang mendukung gerakan Islam, mulai dilahirkan di gedung-gedung parlemen.

 

Seiring kian terangnya sinar harapan untuk menegakkan satu jamaah, terpaan angin pun kian kencang berembus. Ibarat lampu, gerakan Islam terus berusaha dipadamkan. Ada yang mengembuskan angin dari luar, tapi ada juga yang berusaha membocorkan tempat minyak pembakarnya dari dalam agar sinarnya redup. Tujuannya sama: memadamkan gerakan Islam. 

 

Yang harus dilakukan oleh umat Islam adalah menjaga agar cahaya itu tetap bersinar. Keberagaman gerakan Islam yang lahir saat ini, jangan sampai menjadi pemadam cahaya Islam. Segala persoalan yang timbul dalam hubungan antarindividu, antarkelompok masyarakat, atau antarbangsa tak boleh merusak rasa persaudaraan sesama Muslim. Allah SWT berfirman, ”Sesungguhnya orang mukmin itu bersaudara,” (QS al-Hujurat: 10).

 

Bersatu dalam ikatan rasa persaudaraan yang aktif di antara orang-orang beriman dilukiskan Rasulullah saw dalam haditsnya, ”Perumpamaan orang-orang mukmin dalam saling mengasihi, saling menyayangi, saling menyantuni adalah bagai satu tubuh. Bila salah satu bagian tubuh menderita sakit, maka terasa sakitnya di seluruh tubuh,” (HR Bukhari dan Muslim).

 

Perumpamaan umat Islam benar-benar seperti tubuh. Karenanya, jika ada di antara kaum Muslimin yang menderita, lalu umat Islam lainnya tak mau peduli, berarti ada organ yang putus dalam tubuh itu.

 

Persatuan umat bukan kondisi yang datang sendiri tanpa diusahakan. Tapi, merupakan hasil dari proses dakwah dan tarbiyah (pendidikan) umat. Pembinaan umat yang berintikan ukhuwah memerlukan langkah-langkah konkret. Di antaranya:

 

Pertama, adanya leadership (kepemimpinan) di tengah umat Islam yang memiliki sifat-sifat kepemimpinan sejati, yaitu dengan kriteria beriman dan berilmu. Pemimpin dalam perjuangan umat Islam harus sanggup memikul tanggung jawab dan berani menghadapi tantangan. Pemimpin seperti ini tak boleh lekang oleh panas (penderitaan dan kemiskinan) dan tak boleh juga lapuk karena hujan (gelimang harta dan kemewahan).

 

Kedua, ada jamaah yang tegak sama tinggi dan duduk sama rendah. Beragam kelompok yang ada saat ini tak boleh merasa benar sendiri. Apalagi merasa paling berjasa. Kekuatan jamaah terletak pada kemampuan personalnya merekatkan diri pada personal lainnya. Jamaah yang kuat itu dicontohkan oleh Rasulullah, ”Laksana benteng baja yang teguh kuat, antara satu sama lain kuat-menguatkan, tidak akan roboh, dan tidak akan mudah dirobohkan,” (HR Bukhari dan Muslim).

 

Ketiga, yang amat mendasar adalah pembinaan umat yang berkesinambungan berdasarkan al-Qur’an dan Sunnah. Hal ini harus terus dilakukan, baik saat umat Islam berkuasa atau kalah.

 

Ukhuwah dan persatuan umat tetap harus dikedepankan. Ia tak bisa dibeli dengan harta dan materi. Allah menyatakan, ”Sekalipun engkau belanjakan apa yang ada di bumi semuanya, tidaklah dapat engkau mempersatukan hati mereka, tetapi Allah yang mempersatukan hati mereka. Sesungguhnya Allah Mahaperkasa, Mahabijaksana,” (QS al-Anfal: 63).

 

Jika keempat hal itu diperhatikan, tegaknya jamaah dalam satu payung akan segera terwujud tanpa harus ada yang mengklaim, bahwa kelompoknyalah yang paling berjasa. Masa depan milik umat Islam. Seluruhnya.